Art & Culture

Mageret Pandan: Yadnya dari Desa Tenganan

Dua orang laki-laki berhadap-hadapan di halaman balai desa. Masing-masing dari mereka membawa perisai berbahan rotan dan segenggam pandan berduri. Disaksikan seluruh warga desa yang berkumpul melingkar, kedua laki-laki tersebut bergulat, berusaha untuk ‘menggeretkan’ pandan ke tubuh lawan. Walau cucuran darah dan luka membekas di punggung, pergulatan tersebut berakhir dengan senyuman lepas tanpa meninggalkan rasa dendam atau permusuhan.

Itulah gambaran Perang Pandan atau Mageret Pandan, tradisi khas Desa Tenganan. Tradisi unik dari desa yang terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem ini begitu terkenal, hingga mengundang puluhan pasang mata wisatawan untuk menyaksikannya secara langsung.

Mageret Pandan, atau disebut dengan Mekare-Kare oleh masyarakat setempat, berlangsung selama dua hari berturut-turut. Upacara tersebut dilakukan sebagai bagian dari rangkaian Usaba Sambah, persembahan (yadnya) terbesar yang dilaksanakan setahun sekali. Perayaan Usaba Sambah di Desa Tenganan sendiri jatuh setiap Purnama Sasih Kasa kalender setempat.

Upacara Mageret Pandan adalah bentuk yadnya Desa Tenganan kepada Dewa Indra, sang dewa perang. Upacara ini dilakukan sebagai simbol Tabuh Rah (darah persembahan). Apabila di desa lain Tabuh Rah disimbolkan dengan darah ayam, Desa Tenganan menggunakan cucuran darah manusia yang jatuh setelah saling ‘mageret’ pandan.

Kata ‘mageret’ dalam hal ini dapat diartikan sebagai saling menggoreskan. Mageret Pandan memang dilakukan dengan cara menggoreskan pandan berduri ke tubuh lawan. Selesai ‘berperang’, luka-luka yang timbul akibat goresan pandan berduri diobati dengan ramuan tradisional berbahan kunyit.

Setelah acara Mageret Pandan, kegiatan dilanjutkan dengan tradisi Megibung atau makan bersama. Makanan tersaji di atas tanah dengan alas daun pisang, kemudian peserta duduk bersila dan bersama-sama menyantap makanan. Keakraban dan suka cita menyelimuti tradisi Megibung ini.

Satu lagi keunikan saat upacara Mageret Pandan, yaitu pakaian yang dikenakan oleh masyarakat desa. Jika para laki-laki bertelanjang dada dan menggunakan sarung (saput) dengan ikat kepala (udeng), beberapa wanita terlihat mengenakan kain beraksen cokelat kemerahan dengan motif yang khas.

Kain tersebut bernama Kain Pegringsingan. Bentuk Kain Pegringsingan sama seperti kain pada umumnya, namun memiliki motif tertentu dengan corak khas dari Desa Tenganan. Kain Pegringsingan dibuat khusus oleh masyarakat Desa Tenganan dan hanya dipakai pada acara tertentu, salah satunya saat upacara Mageret Pandan.

You Might Also Like

View All

About Us

Dengan design single corridor dimana setiap outlet memiliki akses langsung ke koridor utama gedung, memudahkan sirkulasi para pengunjung untuk dapat melakukan beragam aktifitas. Adanya Mini Ball Room, Co Working Space, Convenience Store, Coffee Shop dan Restaurant ternama serta Bioskop yang nyaman menjadikan Plaza Renon dikenal sebagai mal dengan konsep Meeting Point & Social Hub yang sangat representatif dan Kreatif di tengah-tengah kota Denpasar.

Read more..